tebak skoreuro – Legenda Manchester United menganggap Erik ten Hag sudah keterlaluan, dia akan dipecat sebelum Natal! Kiprah Erik ten Hag sebagai manajer Manchester United memang menjadi sorotan sejak ditunjuk memimpin Setan Merah pada musim panas 2022.
Setelah beberapa musim ketidakstabilan, penggemar Manchester United berharap manajer asal Belanda itu bisa membawa perubahan dan mengembalikan kejayaan klub di pentas domestik dan Eropa. Namun seiring berjalannya waktu, kritik terhadap ten Hag semakin keras. Faktanya, beberapa legenda Manchester United menyatakan bahwa sang manajer mungkin telah melampaui batas, dan ada prediksi bahwa ia mungkin dipecat sebelum Natal.
Legenda Manchester United
Ketika Erik ten Hag tiba Old Traffordekspektasi tinggi langsung menyambutnya. Ia dikenal dengan prestasinya di Ajax, dimana ia berhasil membangun tim sukses di level domestik dan Eropa dengan mengandalkan filosofi bermain yang dinamis dan menyerang. Di Ajax, ten Hag dikenal sebagai pelatih yang mampu mengembangkan pemain muda dan menerapkan sistem permainan berbasis penguasaan bola yang menarik.
Musim pertama Ten Hag di Manchester United relatif sukses dan berhasil meraih trofi Piala Carabao (Piala Liga) dan finis di peringkat ketiga Liga Inggris, memastikan satu tempat di Liga Champions. Selain itu, ten Hag berhasil memperbaiki suasana di ruang ganti dengan menerapkan disiplin yang lebih ketat dan memasukkan pemain muda seperti Alejandro Garnacho. Trofi pertama di era ten Hag dinilai menjadi awal positif proyek jangka panjang di Old Trafford.
Namun kemenangan tersebut diikuti dengan ekspektasi besar dari para penggemar dan media. Mereka berharap Manchester United bisa terus bersaing di puncak klasemen Liga Inggris dan bersaing lebih serius di Liga Champions. Sayangnya, hasil di musim berikutnya mulai tidak sesuai harapan, dan kritik mulai ditujukan kepada ten Hag.
Awal yang Sulit untuk Musim Kedua
Musim kedua Ten Hag dimulai dengan beberapa masalah serius dalam tim. Cedera pada pemain kunci seperti Luke Shaw, Raphaël Varane dan Lisandro Martínez merusak stabilitas pertahanan, sementara penampilan tidak konsisten dari bintang-bintang seperti Jadon Sancho, Antony dan Anthony Martial semakin memperburuk situasi. Performa tim di liga juga kurang meyakinkan, dengan Manchester United kalah di beberapa pertandingan penting melawan rival utama seperti Manchester City dan Arsenal.
Bukan hanya hasil yang menjadi perhatian, namun juga pendekatan taktis Ten Hag yang dinilai sebagian pengamat dan legenda klub terlalu kaku. Manchester United kerap tampil kurang kreatif di lapangan dan mengandalkan serangan balik serta permainan individu pemain seperti Bruno Fernandes dan Marcus Rashford. Ketika strategi tersebut tidak berhasil, Manchester United sepertinya kesulitan mencari solusi alternatif.
Situasi internal pun semakin pelik dengan beberapa konflik yang melibatkan pemain dan staf pelatih. Salah satu insiden yang paling mencolok adalah ketegangan antara ten Hag dan Jadon Sancho, sang pemain terang-terangan menolak kritik dari manajernya yang menyebut performa Sancho dalam latihan kurang memadai. Konflik ini menyebabkan keretakan di ruang ganti, dan Sancho akhirnya tidak diturunkan di beberapa pertandingan penting.
Kritik dari Legenda Manchester United
Seiring dengan kesulitan yang dihadapi Manchester United, beberapa legenda klub mulai mengkritik Erik ten Hag. Salah satu yang paling vokal adalah mantan kapten Manchester United, Roy Keane. Keane yang dikenal dengan sikap pantang menyerah menyoroti ten Hag yang belum berhasil mengembalikan status Manchester United sebagai klub elite Eropa.
Keane percaya bahwa manajemen ten Hag terhadap beberapa pemain bintang tidak cukup efektif, dan tim kurang disiplin dan visi permainan yang jelas. “Di bawah ten Hag, saya tidak melihat identitas bermain yang jelas dari Manchester United. “Dia mungkin menerapkan filosofi sukses di Ajax, tapi Premier League adalah liga yang berbeda,” kata Keane dalam salah satu sesi analisisnya di televisi.
Selain Roy Keane, legenda lain seperti Gary Neville dan Paul Scholes juga turut menyuarakan ketidakpuasannya. Neville yang kini menjadi analis sepak bola menilai ten Hag terlalu bergantung pada pemain tertentu dan gagal memaksimalkan potensi seluruh skuad. Jika Anda bermain slot online, Anda bisa dewapoker terpercaya. Sementara Scholes yang pernah menjadi bagian dari lini tengah legendaris United menegaskan United kurang kreatif di lini tengah dan gaya bermainnya terlalu monoton.
Namun, kritik paling keras mungkin datang dari mantan manajer United David Moyes, yang mengatakan bahwa ten Hag bisa dipecat jika performa tim tidak membaik dalam beberapa bulan ke depan. “Manchester United adalah klub yang menuntut hasil cepat, dan saya tahu tekanan yang dihadapi seorang manajer di sini. “Jika ten Hag tidak bisa membalikkan keadaan, saya tidak akan terkejut jika dia dipecat sebelum Natal,” kata Moyes dalam sebuah wawancara.
Faktor-Faktor yang Mengancam Posisi Ten Hag
Ada beberapa faktor yang menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan posisi Erik ten Hag di Manchester United. Salah satunya adalah tekanan besar dari para penggemar yang mulai kehilangan kesabaran. Meski trofi Piala Carabao memberi harapan, kekalahan di laga penting dan gagal bersaing memperebutkan gelar juara Liga Inggris membuat banyak penggemar merasa frustasi.
Selain itu, manajemen klub yang dipimpin oleh Joel dan Avram Glazer juga memiliki standar yang tinggi. Dengan investasi besar yang dilakukan klub, mereka mengharapkan hasil instan. Jika Manchester United terus menderita kekalahan di Liga Inggris dan gagal lolos dari fase grup Liga Champions, tekanan dari manajemen bisa semakin besar.
Ten Hag juga dihadapkan pada masalah internal tim yang belum terselesaikan, seperti kurangnya kedalaman skuad dan cederanya pemain kunci. Jika tak segera menemukan solusi untuk meningkatkan performa tim, pemecatan jelang Natal bukan hal yang mustahil.


